
Lombok utara POSTLOMBOK.COM — Sastra Sasak menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman dan pergeseran minat generasi muda. Di tengah kondisi itu, upaya menghidupkan kembali sastra lokal terus dilakukan dengan memberi ruang kepada anak muda untuk tidak sekadar mengenal, tetapi juga membaca, menulis dan menciptakan karya dalam Bahasa Sasak.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Malam Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026, yang digelar di Alun-Alun Tioq Tata Tunaq, Minggu, 27/9/2026 malam.
Kegiatan yang merupakan puncak Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara 2026, itu diselenggarakan Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Bukan sekadar malam penghargaan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan sastra Sasak dengan generasi yang akan menentukan keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di masa depan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Lombok Utara, H. Muhammad, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan bahasa dan sastra daerah perlu terus diberikan ruang agar tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.
Ia menilai pelestarian sastra tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan lembaga kebudayaan, dunia pendidikan, komunitas, pegiat sastra hingga masyarakat untuk menjaga agar bahasa dan sastra daerah tetap hidup.
Apalagi, generasi muda menjadi bagian penting dalam keberlanjutan sastra Sasak. Karena itu, ruang-ruang kreativitas seperti lomba, lokakarya, diskusi dan kegiatan kepenulisan dinilai penting untuk memperkenalkan sastra daerah dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak muda.
Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026 sendiri mengusung tema “Menghidupkan Kembali Sastra Lokal sebagai Energi Kultural dalam Membangun Generasi Berbudaya, Kritis, dan Berdaya Saing.”
Tema tersebut diterjemahkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari lokakarya penulisan puisi hingga Seminar Sastra Suku Sasak.
Yang menarik, penyelenggara juga menghadirkan empat kategori lomba yang secara langsung menggunakan dan mengangkat Bahasa Sasak. Yakni, Storytelling Bahasa Sasak, Baca Puisi Bahasa Sasak, Cipta Puisi Berbahasa Sasak, serta Penulisan Cerpen dengan tema “Mempolong Merenten”.
Dari panggung lomba itulah bahasa daerah tidak hanya menjadi objek yang dibicarakan, tetapi digunakan langsung oleh peserta untuk menyampaikan gagasan, perasaan dan kreativitas mereka.
Ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira, Sandi Justitia Putra, S.I.Kom., M.A., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga keberlangsungan sastra Suku Sasak di Lombok Utara.
“Ini merupakan bentuk ikhtiar Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira bersama pemerintah untuk melestarikan sastra Suku Sasak di Lombok Utara. Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal sastra sebagai warisan, tetapi juga ikut membaca, menulis, menciptakan, dan mengembangkannya,” ujarnya.
Menurut Sandi, menjaga sastra daerah tidak cukup hanya dengan menyimpan karya-karya masa lalu. Sastra harus terus diberi ruang untuk tumbuh dan beradaptasi melalui kreativitas generasi baru.
Karena itu, keterlibatan anak muda menjadi penting. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai penerima warisan budaya, tetapi juga sebagai pencipta karya yang dapat membawa sastra Sasak ke ruang yang lebih luas.
Malam Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026 kemudian menjadi titik akhir dari rangkaian kegiatan sekaligus ruang untuk memberikan penghargaan kepada peserta yang telah menuangkan kreativitasnya melalui bahasa dan sastra Sasak.
Lebih dari sekadar menentukan siapa yang menjadi pemenang, rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sastra lokal masih memiliki ruang untuk berkembang ketika generasi muda diberikan kesempatan untuk berkarya.
Tantangannya kini adalah menjaga agar ruang tersebut tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Sastra Sasak membutuhkan keberlanjutan, baik melalui sekolah, komunitas, ruang kebudayaan maupun karya-karya baru dari generasi muda.
Dengan cara itu, sastra Sasak tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bahasa kreativitas, ekspresi dan identitas masyarakat Lombok Utara.(Red)
POSTLOMBOK.COM sepakat dengan berita baik