Home / Kejadian / Warga Lingkar Mandalika, Tagih Ticket Gratis MotoGP 2025 Yang Dijanjikan

Warga Lingkar Mandalika, Tagih Ticket Gratis MotoGP 2025 Yang Dijanjikan

Mandalika (POSTLOMBOK.COM) – Warga lingkar Mandalika menagih janji pihak penyelenggara MotoGP 2025 untuk memberikan tiket gratis. Karena  faktanya justru tiket belum diberikan hingga hari H dan kembali menjadi penonton dari jauh, bahkan di tanah mereka sendiri.

“Janji tiket gratis yang diumbar ITDC sejak awal, konon sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang lahannya sudah dikorbankan untuk sirkuit, berubah menjadi sekadar PHP (Pemberi Harapan Palsu). Realitas di lapangan menunjukkan tiket justru lebih mudah diakses investor, pejabat, dan tamu-tamu VIP. Warga lokal? Lagi-lagi terpinggirkan,” kata Mavie Adiek Garlosa, Sabtu 4 Oktober 2025 dalam tulisanya.

Fenomena ini mencerminkan betapa pemerintah daerah tidak cukup tegas memperjuangkan hak masyarakat. Miq Iqbal seakan larut dalam tradisi Betabeq, berbicara hangat, menjanjikan harmoni, namun ketika menyangkut kepentingan nyata rakyat lingkar sirkuit, pemerintah terlihat hanya menyuguhi janji tanpa eksekusi.

Lebih parah lagi, ITDC sebagai BUMN yang menguasai kawasan Mandalika menunjukkan wajah komersialisasi penuh. Masyarakat yang tanahnya dulu digusur, airnya dipakai, dan kehidupannya berubah total akibat proyek, kini justru harus membayar mahal untuk sekadar menonton di halaman sendiri. Bukankah ini ironi yang paling telanjang?

“Janji tiket gratis semestinya bukan sekadar kompensasi simbolis, melainkan bentuk pengakuan atas pengorbanan rakyat. Namun, yang terjadi justru “gratis” itu hanya dalam wacana, selebihnya rakyat kembali jadi korban narasi pembangunan,” harap Mavie.

Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti menggunakan bahasa budaya seperti Betabeq hanya untuk menutupi ketidakberdayaan dalam menghadapi korporasi. Jika benar berpihak, seharusnya ada sikap tegas: kuota khusus tiket gratis wajib terealisasi, transparan, dan diawasi publik. Tanpa itu, Betabeq hanya menjadi tradisi basa-basi, dan PHP ITDC hanya menambah luka lama masyarakat Mandalika.

Tokoh Muda Mandalika lainya, Lalu Alamin diminta pendapatnya atas pernyataan tersebut menyampaikan, kalau tiket gratis sejak awal pelaksanaan motoGP  selalu ada. Hanya saja selama ini memang tidak diberikan untuk seluruh warga.

“Mungkin karena keterbatasan makanya tidak mungkin diberikan kepada seluruh warga. Bisa jadi ada kesalahab narasi yang disampaikan media ada tiket gratis untuk seluruh warga mandalika kan logikanya ndak masuk itu. Masak seluruh warga mau digratiskan,” kata Lalu Alamin.

Jadi tiket gratis yang selama ini ada, adalah tiket untuk para tokoh, baik tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan juga tokoh agama dan tokoh lainya.

Hal tersebut lanjut Lalu Alamin, dirasa perlu segera diklarifikasi oleh pihak ITDC atau MGPA selaku penyelenggara agar hal tersebut tidak menimbulkan kontraproduktif dari masyarakat lingkar Mandalika.

“Kita tidak tau motivasi daripada pernyataan Pak Troy (Troy Warokka selaku Direktur Operasi ITDC) memberikan pernyataan tiket gratis itu yang kemudian dimuat oleh sejumlah kawan media,” imbuh Lalu Alamin.

Sehingga lanjutnya, sangat diperlukan klarifikasi kepada media dan juga ITDC. Karena jangan sampai media yang memang salah menuankanya dalam berita atas steatment yang disampaikan tersebut.

“Itu asumsi saya. Atau memang benar Pak Troy bilang begitu tanpa koordinasi dulu dengan pihak teknis,” pungkas Lalu Alamin.

Sementara itu, pihak ITDC melalui Direktur Utama MGP Apriandhi Satria dikonfirmasi terkait hal tersebut via WA belum memberikan jawaban.

About Tim Postlombok

Check Also

Komisi III DPRD KLU Turun Tangan Redam Kisruh Tabungan Siswa SDN 1 Sigar Penjalin, Desak Penyelesaian Elegan Tanpa Korbankan Mental Anak

Lombok Utara,PostLombok.Com – Komisi III DPRD Kabupaten Lombok Utara akhirnya mengambil sikap tegas menyikapi polemik …

Lombok Utara – Inovasi ramah lingkungan tak lagi berhenti di ruang laboratorium. Bhayangkari Cabang Lombok Utara kini mulai membawa ECOSA 18UU (Ecoenzyme Soap Active) langsung ke tengah masyarakat sebagai bukti bahwa limbah organik yang selama ini dianggap tak bernilai dapat diolah menjadi produk rumah tangga yang bermanfaat. Setelah resmi diluncurkan pada Mei 2026, ECOSA 18UU mulai diperkenalkan kepada masyarakat di lima kecamatan di Kabupaten Lombok Utara melalui rangkaian Program Gowes Kamtibmas Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah organik sekaligus memperkenalkan produk sabun multifungsi berbahan dasar Eco Enzyme. Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, mengatakan kehadiran ECOSA 18UU bukan sekadar memperkenalkan produk baru, tetapi membangun kesadaran bahwa persoalan lingkungan dapat dimulai dari perubahan kebiasaan di rumah tangga. "Setelah kami luncurkan, sekarang ECOSA 18UU mulai kami perkenalkan secara langsung kepada masyarakat. Kami ingin masyarakat mengenal bukan hanya produknya, tetapi juga proses dan gagasan lingkungan yang melatarbelakangi lahirnya ECOSA," ujar Heny di Kantor Camat Gangga, Sabtu (11/07/26). ECOSA 18UU merupakan hasil kolaborasi Bhayangkari Cabang Lombok Utara dengan mahasiswi Program Studi Kimia Universitas Mataram dalam mengembangkan Eco Enzyme menjadi sabun aktif multifungsi yang dapat digunakan untuk mencuci piring maupun pakaian. Bahan utama produk tersebut berasal dari Eco Enzyme yang diproduksi secara mandiri melalui pengolahan limbah organik yang sebelumnya hanya berakhir sebagai sampah. Melalui proses tersebut, bahan yang semula tidak memiliki nilai ekonomi mampu diubah menjadi produk yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. "Selama ini ada bahan-bahan di sekitar kita yang langsung dianggap tidak berguna dan akhirnya dibuang. Padahal, jika diolah dengan pengetahuan dan cara yang tepat, bahan tersebut masih memiliki nilai manfaat," katanya. Menurut Heny, gagasan terbesar di balik ECOSA 18UU adalah mengubah pola pikir masyarakat terhadap limbah organik. Kepedulian terhadap lingkungan, kata dia, tidak harus dimulai dari program besar, tetapi dapat diawali dari langkah sederhana seperti memilah dan mengolah sampah organik di rumah. "Kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari rumah, dari apa yang setiap hari ada di sekitar kita," ujarnya. Dalam proses pengembangannya, Bhayangkari menggandeng mahasiswi Program Studi Kimia Universitas Mataram untuk memberikan pendekatan ilmiah terhadap pemanfaatan Eco Enzyme. Berdasarkan hasil pengamatan dan kajian akademis, Bhayangkari Cabang Lombok Utara dinilai sebagai salah satu organisasi yang aktif dan konsisten mengembangkan Eco Enzyme di Nusa Tenggara Barat. Heny menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kekuatan penting agar inovasi yang lahir dari masyarakat memiliki dasar ilmiah sekaligus terus berkembang melalui evaluasi dan penyempurnaan. "Kolaborasi ini penting bagi kami. Apa yang selama ini kami kerjakan mendapatkan masukan dan pendekatan dari sisi akademis sehingga ke depan dapat terus dievaluasi dan dikembangkan," katanya. Pengenalan ECOSA 18UU kepada masyarakat juga menjadi langkah awal memperluas gerakan pengelolaan limbah organik berbasis rumah tangga. Bhayangkari berharap inovasi tersebut mampu menginspirasi kelompok perempuan, ibu rumah tangga, hingga komunitas masyarakat untuk memanfaatkan potensi bahan organik yang selama ini belum tergarap. "Produk tidak cukup hanya dibuat dan disimpan. Ia harus diperkenalkan, digunakan, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Karena tujuan akhirnya adalah bagaimana inovasi ini bisa memberi nilai bagi kehidupan sehari-hari," ujar Heny. Ke depan, Bhayangkari Cabang Lombok Utara akan terus mengembangkan ECOSA 18UU melalui kolaborasi dengan berbagai pihak serta memperluas edukasi mengenai Eco Enzyme sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. "Kami tidak ingin ECOSA berhenti sebagai sebuah nama atau produk. Kami ingin ada pengetahuan, kepedulian, dan semangat keberlanjutan yang ikut tumbuh bersama produk ini," tu

Lewat ECOSA 18UU, Bhayangkari KLU Ajak Warga Melihat Nilai Baru dari Limbah Organik

Lombok Utara, (POSTLOMBOK.COM) – Inovasi ramah lingkungan tak lagi berhenti di ruang laboratorium. Bhayangkari Cabang …

Dari Bullying hingga Posyandu Rusak, Aspirasi Warga Jenggala Dibawa Mahasiswa ke Meja Bupati

Lombok Utara, Postlombok.com – Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) yang dijalankan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *