
Lombok Tengah (POSTLOMBOK.COM) – Kisruh persolan Elpiji Melon, selama ini ternyata pangkalan diduga menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang bikin rugi masyarakat.
Dimana dari 16 agen Elpiji bersubsidi yang tersebar di Lombok Tengah, terdapat 600 pangkalan yang mestinya harus ditahu keberadaanya oleh masyarakat luas.
Namun, nyatanya keberadaan pangkalan tersebut, di beberapa wilayah tidak diketahui masyarakat karena seolah pihak pangkalan tertutup.
“Bagaimana pangkalan ini ditahu oleh masyarakat, karena kadang plang nama ada hanya saja kios atau warungnya malah tutup, tidak ada yang tahu adanyong gas di sana,” ungkap Ketua LSM Deklarasi NTB, Agus Sukandi, Sabtu 9 Mei 2026, kepada wartawan.
Selain itu lanjut Agus Sukandi, pihaknya heran karena saat masyarakat meu membeli gas melon, harganya justeru malah berpariasi. Ada yang memberi, Rp 21.000, bahkan hingga Rp 25.000, padahal jelas HET untuk Gas Subsidi tersebut Rp. 18.000.
Atas temuan tersebut, Deklarasi NTB mempertanyakan pengawasan pihak agen atas kelakuan pangkalan yang seenaknya menjual gas melon semau mereka.
“Dari agen ke pangkalan harganya Rp. 14 ribu, dari pangkalan ke masyarakat seharusnya Rp. 18 ribu, ini kenapa ada yang 20 ribu, 22 ribu bahkan 25 ribu. Ini jelas mark-up harga,” imbuh Agus Sukandi.
Untuk itu, Agus Sukandi meminta pihak terkait dan aparat jangan hanya “tidur” melihat fakta tersebut, agar jangan sampai kelangkaan terjadi. Karena bila Elpiji subsisi itu dijual di atas HET maka hanya yang kaya yang akan mampu membelinya.
POSTLOMBOK.COM sepakat dengan berita baik