Nurul Haryati, Nonita Malaika, Baiq Mia Asri Ningsih, Bu Oki, dan satu rekannya yang lain adalah komunitas jurnalisme warga perempuan yang berada di Kecamatan Suwela. Setelah sebelumnya mereka mengikuti pelatihan Jurnalisme Warga pada 22 April bulan lalu.
“Kita turun liputan langsung, ke para petani yang menerapkan irigasi tetes,” jelas Nonita Malaika, yang akrab disapa Noni, sambil merapikan jilbabnya yang tertiup angin.
“Biar tahu rasanya tanya langsung, pegang tanahnya, lihat selangnya. Tidak hanya teori.” imbuh Noni
Belajar dari Selang dan Tetes Air
Di kebun seluas 10 are itu, barisan selang drip hitam membentang rapi di sepanjang bedengan. Tetes demi tetes air jatuh tepat di pangkal batang cabai yang baru berumur sebulan. Pe Yong menunjukkan tandon Bekas berisi 150 liter yang diletakkan di atas petak sawah setinggi satu meter. “Kuncinya gravitasi. Tidak perlu mesin. Hemat air, hemat tenaga,” katanya sambil membuka kran.
Nurul Haryati jongkok, mendekatkan kamera ponselnya ke emitter. “Berapa liter habis sehari, pak?” tanyanya.
Pe Yong menjawab, “Kalau musim kemarau begini, cukup 150 liter untuk 10 are. Dulu kalau disiram pakai gembor bisa habis 1.000 liter lebih.” jelasnya
“Belum lagi, kalau ngecor tentu menghabiskan tenaga” jelasnya.
Dia tidak lagi repot repot, setiap 2 kali seminggu harus ngecor. Termasuk saat proses pemupukan. Cukup aduk pupuk lalu masukkan ke dalam tong, selanjutnya buka kran.
Baiq Mia Asri Ningsih juga demikian, sesekali ia jongkok mengambil video slang dripe yang sedang menetes. “Ini video penting,” bisiknya. Bu Oki yang paling senior di kelompok itu lebih banyak mengamati cara Pe Yong memperbaiki selang dripe dan membuka kra tandon.
Perempuan Bertanya, Petani Menjawab
Wawancara berlangsung di tengah lahan tomat, sembari mereka berdiskusi lepas. Pertanyaannya mengalir, dari modal awal, kendala mampet di selang, sampai hasil panen. Pe Yong mengaku awalnya mikir bagaiman bekerja tidak perlu capek tapi pertanian bisa diolah. “awalnya mikir bertani tidak harus capek, tapi perlu kita ada teknologi, nah irigasi tetes ini sangat penting untuk dikembangkan.” ujar Pe Yong
Bagi lima jurnalis warga ini, liputan irigasi tetes bukan sekadar tugas. Nurul, seorang guru TK, ingin tulisannya nanti dibaca kelompok perempuan di desanya. “Biar emak-emak tahu, ada cara bertani yang tidak bikin pinggang sakit,” katanya. Noni menambahkan, selama ini berita pertanian sering ditulis laki-laki, dengan bahasa yang sulit. “Kami mau menulis dari sudut pandang perempuan, berapa waktu yang bisa dihemat buat urus kegiatan yang lain.”
POSTLOMBOK.COM sepakat dengan berita baik

